Ketika tilawahku tak terasa nikmat..




Cinta itu butuh pembuktian. Begitu pula dengan cinta insan kepada RabbNya.
Tak cukup berucap "aku beriman". Tak cukup!
Memang relung jiwa terasa kadang meronta.
Kehausan.
Itu sebab dari nafs yang kering dari ubudiyah kepada Nya..
Hampa.
Kosong.
Getir.
Kata - kata bagaikan buih. Tanpa isi.
Bahkan, kadang merasakan kehadiran iman dan taqwa kian melemah.
Mungkin karena usia diisi oleh maksiat?
Na'udzubillah.
Jauhkan kami dari maksiat ya Rabb.
Berkahilah hidup kami dengan kobaran semangat kebaikan.
Apakah mungkin efek dari berkurangnya frekuensi tilawah?
Astaghfirullah.
Jadi teringat akan penggalan kalimat Utsman bin Affan ra:
”Kalau hati kita bersih, maka kita tidak akan pernah kenyang dengan Al-Qur’an”

Tertegun diri ini menyimak untaian kalimat dari Usman Bin Affan.
Ternyata, salah satu indikator keimanan kita adalah frekuensi tilawah...
*Muhasabah

yup, mungkin itu salah satu penyebab kegalauan generasi saat ini.
Mungkin diriku, dirimu, dan dirinya.
Kegalauan yang batin ini pun tak tau itu apa?
Jauh dari Al-Qur'an, merupakan musibah bagi tiap insan.
Bagaimana mau berpegang pada tali Allah, jika membaca saja bosan?
Bagaimana mau merengkuh jannahNya, jika manusia segan membaca petunjuk cinta dari Allah?
Bagaimana mau mengenal RabbNya lebih dekat, kalau seluruh insan tidak mengindahkan kitabnya sendiri?
Siapa yang peduli?
Generasi Rabbani, bukan sekedar ejaan belaka.
Tak bermakna tanpa pengorbanan.
Perjuangkan masa depan akhirat kita!
Mulai saat ini.
Don't be late...