Allah Maha Lembut.. ^^

Alhamdulillah, ahad kemarin dapat tausiyah dari salah seorang saudari yang menginspirasi.
Nasihatnya adalah tentang salah satu asma'ul husna. Al - Lathif..



Al - Lathif, Allah Maha Lembut.
Dengan kelembutanNya, terkadang kita tak merasakan nikmatNya yang senantiasa hinggap di diri ini..
Ketika Allah menyapa kita dengan hujan rintik - rintik, menyejukkan raga dan jiwa..itulah bukti, bukti kelembutan Allah..

Ketika Allah menyiapkan padi yang panen di sebuah tempat nun jauh di sana.. Kemudian atas izinNya, kita dapat menikmati nasi yang ternyata telah diproses sedemikian lama, untuk sampai ke piring kita.
Ya Lathiif..

Ketika Allah memberikan kita pakaian yang melekat pada raga ini.
Dengan kelembutanNya, kita kembali tak peka akan nikmatNya.
Tentu saja, pakaian itu tak langsung ada di depan mata kita..
Perlu proses, dari menanam pohon kapas, kemudian proses pengambilannya, proses pengolahan kapas menjadi kain, kemudian dari kain menjadi baju.. Subhanallah, Allahu yaa Lathif..

Insan.. terkadang tak peka merasakan kasih sayang Nya.
Padahal, nafas ini pun adalah bukti cintaNya yang tak terkira..
Begitu lembutNya Engkau Ya Allah, hingga aku malu menatap diriku sendiri.

Angin sejuk yang menyisir pohon - pohon sekitar, terkadang tak ku syukuri..
Padahal, dikala itu Engkau sedang menunjukkan kelembutanMu di hadapan hamba - hambaMu.
Realitanya, insan yang penuh karat ini menjadi keras hati tak menggubris panggilanMu.
Sibuk dengan BB, ilusi, idola tak bersahaja, dan segumpal kesenangan dunia lainnya.

Ampuni kami, ya Allah.. lembutkanlah jiwa dan hati kami. Aamiin

Bangga?


Ya Allah, cukuplah menjadi kebanggaan bagiku, Engkau adalah Rabb-ku.
Dan cukuplah menjadi kemuliaan bagiku, aku adalah hamba-Mu..
Ya Allah, Engkau sebagaimana yang aku inginkan,
Maka jadikan aku sebagaimana yang Engkau inginkan..
-Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu-


Subhanallah, masihkah kamu bangga dengan hal yang fana?
Bangga, punya BB? Mobil mewah? Otak cerdas? atau...bla bla bla..
Astaghfirullah..
Ukuran bangga bagi seorang Muslim sejatinya bukanlah materi.
Tapi kebanggaan yang tiada tara bagi seorang muslim adalah..ketika ia menyadari posisinya sebagai hamba Allah. Ya.. bangga karena Allah adalah Rabbnya.. 

Trus, kenapa harus bangga jadi seorang Muslim...?
Bangga, dan bersyukur karena Allah tlah menggariskan kita untuk merengkuh nikmat Islam dan Iman.
Peganglah erat - erat nikmat itu!
Karena tidak seluruhnya memiliki nikmat yang kau genggam saat ini..
Jangan sampai, kita berbangga diri saat KTP kita menyatakan Islam.
Tapi berbangga-lah karena Allah adalah Rabb kita..
Maka..dengan seiring berjalannya waktu, kita akan semakin mendekat dengan cintaNya..
Sekalipun berjuta manusia sedang terheran - heran atau takjub dengan kemegahan dunia, maka jangan ikuti langkah mereka..
Lawanlah arus trend menjadi follower tak bersahaja..dengan bangga menjadi  follower sejati Rasulullah SAW.
Insya' Allah kau kan selamat.
Meskipun sunnah Rasul terasa kian terasing.
Memakai hijab lebar terkesan terasing, shalat sunnah, puasa sunnah, kian terasa terasing..
Jangan gusar,wahai saudaraku.. karena hidup kita di dunia memang sebagai orang asing.
Hanya sebentar, tak menjadi rumah abadi.
Kelak, disana..
Jannah-Nya kau kan istirahat dalam naungan cinta yang tiada batas! :)



Surat untuk pengemban da'wah


Teruntuk, engkau adikku.
Di jalan da'wah.

Da'wah adalah nafas..
Lantas, apakah kita bisa menghentikan nafas ini?
Apakah kita sanggup menatap dunia ini gersang dari siraman iman?
Ataukah dingin. tanpa penghayatan?
Na'udzubillah.


Jika kita, hadir dan dihadirkan oleh Allah menjadi salah satu pejuang da'wah..
Apakah kita sanggup untuk menolaknya wahai adikku tercinta?
Apakah diri ini sanggup menjawab pertanyaan di hadapan munkar dan nakir nanti?

Tanggungjawab kita..sebagai khalifah di bumi.
BERAT. namun ada Allah dan RasulNya

Amanah ini, sebagai penyambung da'wah Rasulullah dan para nabi terdahulu..
BERAT. namun ada Allah dan RasulNya.

Sebelum ajal menjelang..
Sebelum kita menyesal..
Sebelum ruh ini brpisah dari raga.
Bismillah..kita tunaikan amanah dengan sebaik baiknya..

karena Allah, semua akan menjadi indah.
karena Allah, semua akan menjadi berkah.
karena Allah, semua akan menjadi jannah.

Begitu indahnya da'wah..
Menyinari kelamnya peradaban mekkah yang hingar bingar sebelum Rasulullah diutus..
Hingga menjadikan Mekkah nan cerah merekah!
Menyinari madinah, yang haus akan pedoman..
Menyinari tha'if yang masih menyembah berhala..

karena da'wah, ukhuwah tercipta..
karena da'wah, manisnya iman dapat dirasa..
karena da'wah, kita  bisa mengenal siapa Rabb kita..
karena da'wah, kita mengenal surga dan neraka..
karena da'wah..kita bisa mereguk ketenangan jiwa..

Da'wah adalah pembuktian iman.
Da'wah adalah action dari iman dan taqwa.
Tidak cukup dengan hati.
Jika kau sanggup lebih, kenapa tidak?

Entah..
Bisa jadi... Rasulullah menangis tatkala melihat kondisi ummat hari ini.
jauh dari Allah..
jauh dari Al-Qur'an..
jauh dari Sirah nabawiyah..
jauh dari kemuliaan akhlaq..
jauh dari mengingat mati..
jauh dari istighfar..
jauh dari taubat..
jauh dari pengorbanan..
jauh dari saling mengingatkan satu sama lain..

Semoga Allah meneguhkan kita dalam jalan ini.
ISLAM is never die in my heart, my soul, and my mind..

Ayo Bangkit jiwaku..jiwamu..jiwa kita..!!
Bismillah..tenanglah, ada Allah yang Maha Sempurna dan Maha Besar.

lihatlah di ujung sana..
Rasulullah sudah menunggu kita di pintu surga.
Kejar..kejar..kejarlah ukhti..
jangan takut!
meskipun ada duri dan paku.
rasa sakit itu hanya sebentar, dibandingkan akhirat yang kekal.

KITA PASTI BISA!
BISMILLAH..
ALLAHU AKBAR!!

Love Allah.
Love Muhammad.

mohon maaf jika ada kata yg salah.

-hanyainsanbiasa-

Jangan cepat berpuas diri..

Bismillah..

Terus bergerak, meskipun bahan bakar kini kian menipis..
Tapi langkah seorang pejuang tak boleh terhenti sampai di sini.
Harus memperbaiki diri, meskipun tabiat iman memang fluktuatif.
"Maka..nikmat Rabbmu manakah yang kau dustakan?" (Ar - Rahman)

Begitu banyak masa yang disiakan.
Begitu sering, diri hina ini merasa berpuas diri.
Entah, karat apa yang hinggap di sini.
Padahal, kunci orang sukses akhirat tak pernah berpuas diri akan ibadahnya.


Seperti Rasulullah saw dan sahabat yang senantiasa totalitas dalam ibadah dan da'wah.
Tak pernah merasa 'ke-PD-an' hingga berleha - leha dalam amal ibadah.
Astaghfirullah..
Posisiku, tak ada apa - apanya dibandingkan mereka.
Namun perjuanganku tak se-gigih mereka.
Tak sedikitpun.

Hari ini mulailah berkaca, wahai jiwa..
Mau engkau gunakan untuk apa masa muda ini?
Manfaatkanlah! Karena ia bagai kuda yang berlari cepat.
Meninggalkan ruang dan waktu.

Hanya cintamu kepada Allah 'azza wa jalla yang memurnikan ketaatan yang tak pudar.
Allohu Akbar! cintaMu yang tulus, sudah sepatutnya kau balas lurus..
Niatmu, mohon diluruskan. Ingat peringatan cintaNya dalam Adz-Zariyat : 56..


Sifat ujub..

Bismillah..

Sedikit review mengenai buku Tazkiyatun Nafs, pembahasan mengenai Ujub (Membanggakan Diri).
Ya Allah..mau nangis teruss kalau baca bab yang ini.. #periksaDiri

Rasulullah saw bersabda, "Apabila kamu berjumpa dengan seseorang yang memperturutkan sifat pelit, mengumbar hawa nafsu, mengutamakan dunia, dan selalu 'membanggakan pendapatnya sendiri', maka selamatkan dirimu" (at-Tirmidzi)

Rasulullah saw. menasehati orang yang terjangkit penyakit ujub untuk melakukan uzlah (menyendiri), sedangkan dalam tiap kesempatan beliau selalu menganjurkan umat untuk berjama'ah. Nah, ternyata uzlah merupakan salah satu terapi pengobatannya..



Ibnu Athaillah as-Sakandari berkata mengenai sifat merasa cepat puas,
"Asal segala maksiat adalah kelalaian dan cepat merasa puas atas apa yang dilakukan. Asal segala ketaatan adalah tidak lalai dan tidak merasa cepat puas atas apa yang dilakukan. Ilmu apakah yang membuat seorang alim itu merasa puas sehingga ia tak mau belajar lagi, dan kebodohan apakah bagi orang yang bodoh sehingga dirinya tidak merasa puas?" #jlebb banget buat aq :'(

Di sini terdapat tips untuk melawan penyakit ujub, salah satunya adalah dengan sifat tenang ketika musyawarah. Orang yang selalu mengikuti hawa nafsu dapat diobati dengan mengikuti rambu - rambu Al-Qur'an (ini nih yang dimaksud bahwa Al-Qur'an adalah asy-syifa'...).

For your information..ternyata, ujub dengan sombong (kibr) itu beda lhoo.. jadi, kalo ujub itu sifat membanggakan diri tanpa ada pembanding. Contohnya seperti seseorang yang ujub dengan ibadah shalat tahajudnya, maka ia tidak perlu melihat ibadah tahajud orang lain.. jadi ibaratnya 'ngerasa istimewa sendiri'. Beda dengan sombong, kalo sombong itu memerlukan orang lain (mutakabbir alaih) untuk membandingkan dirinya, seperti sombong dengan ilmunya karena ia melihat keilmuan orang lain di bawahnya, lalu timbul kepuasan dari hatinya. Merasa lebih dari yang lain..dan meremehkan mereka. #horor nih ujub!

Ayo, readers..kita sama - sama berdo'a kepada Allah Azza wa jalla agar terhindar dan dibersihkan dari penyakit hati ini (ujub dan sombong). Supaya kita tak termasuk dalam hadits ini:
Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah masuk surga seseorang yang di hatinya terdapat kesombongan sebesar buah dzarrah" (HR. Bukhari)

Mau nangis? boleh.. yuk, kita sama-sama mengobati diri :)
Ini ada ayat yang menyentuh sekali..
Allah SWT berfirman, "Maka apabila orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk, lalu ia meyakini pekerjaan itu baik..." (Fathir[35] : 8)

"......Mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik - baiknya.." (Al-Kahfi:104)
Rasulullah saw bersabda, "Keadaan seperti ini akan banyak terjadi pada generasi terakhir umat ini."
(Abu Dawud dan Tirmidzi)

Mari mencerna dan meresapi.. tambah mau nangis kan? apalagi kalau melihat yang di-underline itu lho.

Nikmati saja prosesnya ^^

Ketika melingkar ahad lalu.. Ummi membahas mengenai menikmati proses.
Proses hidup yang begitu panjang, kadang menuai ujian dan bumbu kehidupan yang beragam.
Orientasi hasil memang dibolehkan, namun tak dijadikan pembenaran jika prosesnya tak sesuai perintahNya. Jangan jadi hamba oportunis! #upss..


Ada sebagian orang yang mudah stress, ketika cita - cita atau harapannya tak mampu ia gapai. Kenapa? karena orientasi hasil yang berlebihan. Padahal, hasil itu adalah kehendak Allah. Hak prerogatif Allah saja. Dan sebagai seorang hamba, tugas kita adalah berusaha dan berharap mendapatkan yang terbaik. Nah, sebelum itupun bab yang ini juga harus selalu mengiringi sampai final apapun prosesnya. Apa sich? Yaa apalagi kalau bukan "Niat yang lurus, mengharap ridho Allah Yang Maha Segalanya.."

Selain itu, proses yang kita jalani ini tak untuk dilewati begitu saja. Pentas ini.. adalah pentas kesungguhan iman dan islam kita. Sampai dimanakah tingkat kesabaran seorang insan dalam meniti jalan hidupnya? Apakah ia berhasil sampai garis finish, atau malah gagal di garis start..atau melambaikan tangan ke kamera saat di pertengahan?

Jika menelisik kisah Rasulullah dan sahabat, kita bisa mengambil hikmah yang begitu padat. Yakni, hidup mulia atau mati syahid. Ketika hidup, dalam kemuliaan Islam..dan matipun dalam keadaan syahid yang dirindukan. Begitulah hidup yang bahagia, jika semuanya kita gantungkan kepada Allah. Allahu Shomad. Tak kan ada kata menyerah dan kecewa kepada hasil.. karena keyakinan yang melebihi gunung uhud. Bahwa Allah, senantiasa memberikan yang terbaik bagi hamba - hambaNya.
yang berharga adalah proses, bukan hasil.. karena hasil adalah ketetapan Allah.
Ini contoh kecil dari "menikmati proses"..
- Niat kuliah? -> menambah ilmu Allah, bukan title /  jabatan.
- Niat bisnis? -> meraih ridho Allah, bukan mencari kekayaan semata.
- Niat halaqah? -> meraih ridho Allah, bukan untuk mencari jodoh. *lohh

So, kesimpulannya ---> Semua proses, harus dilandaskan karena Allah!

Jaga kejujuran, jaga izzah, jaga iffah, jaga keramahan, dan intinya..jaga dinullah!
"Pahala yang Allah berikan, bukanlah dihitung berdasarkan hasil..tapi proses yang membersamainya.."

Sekian, semoga bermanfaat!

Ya Rabb, Engkau-lah yang mengajarkanku

Bismillah...

Ya Allah jadikanlah air mataku hanyalah untuk Mu..
Bahagiaku hanya untuk Mu..
Cintaku hanya untuk Mu..
Shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Mu..

Ya Allah..sungguh, hambamu ini adalah insan yang mudah lupa.
Padahal dalam tiap shalat, hamba senantiasa mengucap janji setia padaMu.
Namun.. kekhilafan terus membayangi tiap desah nafas.
Nampaknya, syaithon tak pernah rela melihat kami sujud padaMu.



Ya Rabbi.. perlindungan hanya milikMu
Yang Maha Menyaksikan setiap saat hanyalah Engkau.
Bahkan, di kala tak ada yang ingin mendengar keluh kesahku.
Itulah saatnya.. dan mestinya sedari dulu.. aku kembali menunduk menangis menghadapMu.
Dan, sekali lagi. Engkau selalu setia setiap saat.

Sungguh, hanya Engkau Yang Maha Suci.. namun, kau mengajarkanku arti ke-tawadhu-an.
Subhanallah, Sang Maha Suci yang senantiasa menerima ampunan lumuran dosa hamba - hambaNya.
Allah.. Kau lah Kekasih sejati yang sesungguhnya. :')

Di saat yang lain ogah menemani hamba ini mengarungi badai cobaan..
Lalu Engkau menenangkan hati ku yang sedang gusar.
Dengan lembut, Engkau berfirman : "Innallaha ma'ash shoobiriin.."
Dan di saat itu pula, Engkau sedang mengajarkan arti kesabaran agar membersamaiMu.

Ya Allah.. dengan apa aku menjadi hamba terbaikMu?
Semestinya hamba malu.. terlalu banyak meminta kepadaMu.
Dan.. dengan kasih sayang Mu Engkau berfirman : "Berdo'alah kepadaKu.."
Engkau mempersilahkan kami, agar tak malu lagi untuk berdo'a..
Di saat aku meminta dunia, Engkau berfirman dengan tegas..
"Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (An-Nahl: 96)
Dengan sigap hambaMu yang lemah ini berbalik arah meminta ridhoMu yang tiada tara..
Jannah--> agar aku bisa bersama dengan para kekasih Mu..
Engkau mengajarkan arti keabadian dengan demikian santun..

Sungguh, keabadian hanya milikMu..
Dan dunia ini pun sekarang senyum getir menyaksikan taqdirnya yang hanya sementara..

Jangan hanya mengutuk gelap!

Bismillah..
Membaca karya Ustadz Salim A. Fillah, "Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim" memberikan torehan tersendiri. Mengapa? Sungguh, tak kan mampu ku paparkan seluruhnya. Mungkin ini hanya refleksi sebagian kecil dari keseluruhan itu.

Menjadi Muslim, adalah menjadi kain putih.. lalu Allah mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukan. keceriaan, dan cinta bagi semesta alam. Manis, bukan?
Dari buku ini, aku belajar memaknai amanah sebagai seorang Muslim. Yah, penuh perjuangan. Memang, nikmat ini yang sering dilupakan..abstain dari pikiran seorang muslim. Nikmat Islam. Semoga, tak kan melupakan nikmat agung ini.. aamiin.

Muslim, tak sekedar syahadat-shalat-puasa-zakat-haji.. namun, jauh lebih dalam lagi jika cita-cita seorang Muslim adalah Kaaffah!
Biarkanlah, para musyrikin menghendaki kesenangan duniawi. Biarkanlah. Janganlah kita jadi follower mereka. Kita, adalah generasi mulia dengan kebanggaan tiada tara menjadi hamba Allah. Apalagi yang kita banggakan selain menjadi hamba Allah Yang Maha Besar?

Namun kebanggaan tak berujung kesombongan yang menjerumuskan. Saksikan, bahwa aku seorang muslim adalah bukti bahwa kita sedang berjuang mati - matian menjadi hambaNya yang sungguh - sungguh beriman kepada Nya.

Wahai saudara/i ku.. mungkin kita pernah bertanya dalam hati. Mengapa sampai hari ini gaung kebenaran tak setinggi perang Badar pada zaman Rasulullah? Mengapa, saat ini terkesan kebathilan yang suaranya lebih mendominasi? Mengapa? Mengapa?

Karena suara - suara kebenaran hanya berdiam di masjid - masjid, dan suara kebenaran hanya bergaung di mihrab - mihrab. Belum mencuat ke permukaan seperti laiknya kebathilan pada hari ini. Bergaung di seantero istana pemimpin, sekolah, kampus, pasar, televisi, internet, dan lainnya. Astaghfirullah..


Lalu, dikemanakan suara kebenaran itu? Jangan sampai, kita baru bersuara ketika kebathilan telah bekerja. Don't be late.. kebenaran harus disuarakan dengan kobaran semangat menggelora, yang apik dan penuh kharisma. Ya Rabbi.. sungguh hamba tak ingin hanya sekedar menuliskan ini.

Minimalnya, mari kita muhasabah sejenak. Jangan sampai kita hanya mengutuk gelap. Sedih, melihat kondisi ummat saat ini. Tidak!!! Adalah karakter seorang Muslim yang tak hanya mengutuk gelap, dan segera menyalakan lilin.

Kembali ke muhasabah.. coba teliti lagi hidup kita.
Sudahkah kita menyuarakan kebenaran dengan gigih?
Sudahkah kita benahi frekuensi halaqah?
Sudahkah kita mengisi mentoring /  halaqah dengan istiqomah?
Sudahkah kita 'nyemplung' di jalan dakwah sampai dengan iman?
Sudahkah kita membuang jauh - jauh masa lalu yang penuh dengan maksiat?
Jika belum, bagaimana suara Islam mau ditegakkan?. Lah wong pemeluknya saja ogah menyuarakan firman Rabbnya dan hadits RasulNya?

Dan sekali lagi, aku bertanya dalam hati: Kemanakah janji itu? Janji ketika kita berucap:
"sesungguhnya, shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah untuk Allah Rabb seluruh alam.."

Dan kini, akupun harus muhasabah. Mohon maaf atas sgala khilaf.

-Semoga Bermanfaat!-