Terimakasih pada Sang Maha Cinta..

Tiga pekan tlah berlalu. Merenda kasih bersama hambaNya yang tlah ditakdirkan menjadi teman hidupku.
Terimakasih kepada Sang Maha Cinta karena tlah menyatukan cinta kita :)

Tiga pekan yang merupakan ajang untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain.
Menyelami impian masing -  masing dan berikhtiar merealisasikan dengan cara yang disukai-Nya.
Allah.. semoga cinta ini tak hanya di awal saja.
Aku berharap, rasa ini membersamai kami hingga akhir hayat nanti.
I know...that Love is never flat.
Dan oleh sebab itu.. ku mohon, bantu aku untuk mematuhinya sesuai dengan perintahMu.
Sudah tiga pekan berlalu.. semoga Engkau semakin ridho kepada kami.
:)



Jangan kau lihat kulit luarnya..

Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Jika kuningnya buah berarti pertanda telah matang, dan gelapnya langit adalah hujan.
Namun, dalam sisi lain manusia.. penilaian kulit luar tak selamanya membuahkan hasil presisi.
Terkadang meleset, namun penuh hikmah di dalamnya.
Itulah keunikan manusia.
Tak mampu kita menilai dari sekejap pertemuan saja.

Semoga Allah mengampuni kita dari lintasan prasangka yang tak baik.
Entah, ketika praduga tak bersalah kita tancapkan di sembarang kesempatan.
Astaghfirullah..
Yuk, kita belajar berprasangka baik.
Waspada boleh, tapi jangan sampai melahirkan prasangka buruk di hati ini.

Kerinduan yang Menembus Dimensi Waktu


Aku pernah merasakan kerinduan yang dibalut dengan rasa harap dan cemas
Aku berharap, agar dapat bersama mereka(para Shalihin di tiap zaman) di jannahNya kelak..
Dan aku cemas, akankah aku bisa mencapai prestasi setinggi itu?
Bersama dengan mereka yang berjuang atas nama Allah.
Mereka yang ikhlas, dan mengajarkanku arti keikhlasan.
Mereka yang mengajarkanku arti perjuangan dan syahid..
Mereka yang teguh memegang diin ini dengan segenap energi yang mereka punya..



Lantas, di titik ini aku berfikir..sampai kapankah aku hanya menjadi penonton mereka?
Sampai kapan detik ini aku tunggangi dengan keterlambatan aksi nyata?
Sampai kapankah aku hanya ingin dan ingin mencontohkan apa yang pernah mereka gapai…
Rasa ingin yang absen dari amal perbuatan..astaghfirullah

Hemm…
Aku mulai menampar diri ini dengan kata-kata ku sendiri..
Aku tak ingin terpaku hanya pada titik ini
Titik yang belum pasti keputusanNya berpihak pada surga.. Atau…naudzubillah (neraka)

Aku tak ingin sisa hidupku ini hanya diisi oleh permainan dunia
Aku  senang..
Tapi di belahan bumi yang lain, saudaraku se-iman sedang meregang sakratul maut di medan jihad.
Kemanakah jiwaku berada?
Ada apa dengan diriku?

Aku mulai menyadari ..
Kehadiranku di ranah dunia ini tak untuk sekedar menikmati kulitnya yang semu
Aku tak ingin berada di barisan penyesal hebat kelak!
Aku tak ingin Rasulullah berpaling ketika di yaumul mahsyar nanti.
Dan aku tak ingin.. Zat yang paling aku cintai enggan menatapku di hari akhir kelak..

Tangisku selama ini taklah sebanding dengan lautan ni'mat yang telah dianugerahkanNya..
Alam yang DIA persembahkan untukku… bisa jadi, aku dzalimi karena ketidakpahamanku.
Seringkali hujan pun, dihujat dengan alasan duniawi.
Itulah, insan yang tak paham akan esensi nikmat yang perlu dibaca dengan keimanan yang menjulang

Aku ingin sekali menggapai langit dengan ridhoNya..
Mempersembahkan keindahan dalam beramal dengan totalitas amal tanpa bumbu riya' atau sombong sedikitpun..
Aku tak ingin berwajah hitam ketika di yaumul akhir kelak
Aku ingin bersama Allah yang aku cintai dengan sepenuh jiwa & raga.
Tanpa dusta sedikitpun.
Semoga Allah memudahkan aku dan kita semua dalam menggapai cinta terbaik kepadaNya

Sheilla Rizkia Ferianty
Bandung, 6 April 2012

Kontemplasi


Bergegas, mencari bekal untuk perjalanan panjang.
Terkadang, kaki ini terkilir atau bahkan terluka hingga berdarah.
Namun, perjuangan tetaplah perjuangan.
Kisah ini belumlah berakhir hingga Sang Pemilik berkehendak.
Entahlah.. dimana posisi kita kelak?
Terkadang, cita-cita mulia kita untuk membersamai mereka, para pahlawan cintaNya.
Sungguh manis, namun terasa sangat jauh untuk digapai.

Terpaku pada dimensi ini.
Yah.. aku, kita dan kamu sekarang masih dalam satu dimensi.
Tapi tak jarang, kita mengunjungi dimensi lain dalam do’a dan kerinduan
Rindu bersama mereka, para shalihin dalam tiap episodenya.
Rindu yang mengalirkan energi kebaikan.

Mari kita ubah air mata penyesalan ini dengan istighfar, harapan, semangat perubahan dan tawakal.
Semoga Sang Maha Penyayang meridhoi tiap langkah – langkah kita.
Insya Allah, kelak kita kan beralaskan za’faran, beraroma misik, dan berhiaskan sungai-sungai  yang dijanjikanNya.

Itulah buah cinta yang sesungguhnya.


Bandung, 7 Maret 2013 22:37 WIB