Halaqah i'm in Love

Bismillah..

"Ikatlah ilmu dengan menuliskannya"

Pepatah di atas merupakan latar belakang saya menulis di sini.
Begitu banyak suhuf (lembaran) catatan lingkaran saya.
Mendorong saya untuk mengikatnya di sini.

Sabtu, 14 Mei 2011
Di Cibinong

Ghurur

Apa itu?
Tipuan, atau terpedaya.
Ayo buka mushaf kamu! Lihat QS. Luqman : 33

"Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah."

Menurut Imam AL-Ghazali, Ghurur itu...
"Beribadah dalam ilusi, tidak direalisasikan dalam perbuatan."  Naudzubillahi min dzaalik..

Trus..ada beberapa tipe ghurur nie..
1. Golongan yang menguasai ilmu syariah & aqidah tetapi tidak menjaga diri dari kemaksiatan anggota tubuhnya.

2. Golongan yang sudah menguasai ilmu, mereka sudah merasa berada pada amal yang baik. Sehingga terpedaya oleh popularitas.
Indikatornya --> Lebih mengutamakan amalan - amalan sunnah dibandingkan amalan wajib.

Hadits Rasulullah:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk kalian dan harta kalian. Tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.."

3. Golongan yang mengambil jalan da'wah, mereka mengingatkan kepada kebaikan ..tetapi mereka menyampaikannya dengan keras.
Da'wah tidak dapat disampaikan secara saklek / keras. Coba kita lihat suri tauladan kita Rasulullah SAW.. Beliau mencontohkan kepada kita bahwa berda'wah itu disertai dengan kelembutan dan kebijaksanaan. 
Indikator golongan ini : 
  • Keras, dan tidak menerima kritik orang lain.
  • Da'wah dengan hawa nafsu

4. Golongan yang antusias dalam amalan sunnah
Mari kita simak hadits Rasulullah SAW:
"Tidaklah mendekat diri hamba kepada Allah SWT, seperti ia menunaikan kewajiban dengan sebaik -baiknya"


5. Golongan yang mendapat nikmat dari Allah SWT, tetapi mereka tidak bertambah amalan shalihnya.
Contoh : Setelah menikah, amalan shalih kita tidak bertambah. Bahkan berkurang.
Ibnu Mas'ud berkata:
"Berapa banyak manusia yang dihukum oleh Allah dengan kesenangan yang mereka anggap sebagai kenikmatan"


-Semoga Bermanfaat-