Tamparan di Kereta Ekonomi
Masih ku ingat, ketika bersama angel pergi ke tanah abang.
Yupz, namanya juga mahasiswa. Hemat dikit, naik kereta ekonomi.
Dengan semangat membara, menerobos masuk agar bisa turut andil ke dalam.
Alhamdulillah, masih lumayan lowong.
Kita berada tak jauh dari pintu kereta.
aku dan angel tidak terlalu banyak cerita.
Kita hanya menyaksikan pemandangan di luar.
Semakin lama, ribut dan ricuh di dalam kereta.
Entah, apa yang dibicarakannya.
Kalau boleh diri ini menilai...
Hal yang dibicarakan tak ada manfaatnya.
Semua berisi gurauan, menggoda orang yang 'latah', saling menghujat, dan...
Astaghfirullah..menghela nafas panjang.
"Angel...kita agak menepi yuk, berisik di sini." aku sudah mulai gusar.
"Ok." Angel mengiyakan.
Saat itu, kereta sedang berhenti dan arus penumpang kembali meramaikan.
Sekelompok orang yang berteriak - teriak tidak jelas itu kembali ricuh.
Berisik.
Bagi AnKer (Anak Kereta), orang - orang tsb biasa disebut sebagai "Genk Gerbong".
Karena memang realitanya mereka membentuk kelompok dalam satu gerbong.
Ya Rabbi... gumamku.
Mencoba konsentrasi dan tidak mengindahkan lelucon dari orang - orang tsb.
Jarak aku pun sudah lumayan jauh.
Ternyata, salah seorang genk gerbong tadi menyenggol temannya hingga jatuh.
Yupz, itu disengaja. Supaya lucu.
Penumpang baru, seorang ibu - ibu.
Tepat sekali, berbicara di belakangku.
"Itu yang kayak gitu biasanya orang Islam tuh..
Omongannya ga dijaga. Kasar.
Kelakuannya juga...
Coba kalau kita lihat orang - orang **i***n, ga akan seperti itu.
Mereka lebih sopan." Ibu itu kesal dan curhat kepada temannya.
(kurang lebih seperti ini, intinya aja)
Aku tertampar!!!
Mau menangis hati ini tercabik - cabik.
Aku merasa tersudutkan.
Islam itu indah bu...(teriak aku dalam hati)
Jujur, aku pun tak bisa menyalahkan ibu itu.
Karena akupun merasa tidak nyaman juga dengan ulah mereka.
Tapi..ini masalahnya Islam yang disudutkan.
Astaghfirullah.
Hatiku panas. Kembali mengarahkan egoku.
Tertegun.
Meresapi hikmah di balik semua ini.
Aku harus bangkit!!!
Problema umat Islam saat ini.
Kehilangan jati dirinya sebagai Muslim tentunya.
Jauh dari keteladanan Rasulullah.
Atau...dakwah belum menyentuh mereka ya Allah?
Aku juga semakin merasa bersalah.
Belum bisa berbuat apa - apa di sana.
Kondisi yang jauh dari mereka, dan ibu itupun sudah beranjak dari belakangku.
Terdiam, meresapi pernyataan tadi.
Tamparan itu masih membekas di hati ini.
Tamparan yang membuatku menilai, bahwa Muslim saat ini benar - benar diuji.
Jangan pernah salahkan orang yang mengkritik kita.
Tapi... jadikanlah itu ajang intropeksi bagi tiap diri.
Muhasabah...
Bisa jadi, kebencian mereka disebabkan oleh ulah kita sendiri.
Jaga hati, jaga akhlaq, jaga niat, jaga agama ini dimanapun kita berada.
"Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu"
Komentar
Posting Komentar