Go to HIJAB!
Semoga
goresan kali ini tak disisipkan riya' atau sombong sedikitpun..aamiin.
Aku
hanya ingin menggoreskan perjalananku dalam mengenakan hijab.
Ini ceritaku..:D
Ketika Madrasah
Ibtidaiyyah (SD), aku memang telah mengenakan jilbab.
Namun tidak lengkap.
Masih mengenakan lengan pendek plus rok yang tak sampai mata kaki. Hanya sampai bawah lutut.
Namun tidak lengkap.
Masih mengenakan lengan pendek plus rok yang tak sampai mata kaki. Hanya sampai bawah lutut.
Ketika SMP, aku sempat
melepaskan jilbab. Dan ketika kelas 2 SMP akhir, aku memutuskan kembali
berjilbab. Namun..itu hanya ketika pergi ke sekolah saja. Saat SMP ini, aku
terlihat tak seperti wanita. Bahkan, ketika teman-temanku yang muslimah
mengenakan rok pramuka, aku asik dengan celana pramuka kebanggaanku. Tak ada
guru yang protes, Alhamdulillah. Horeee!
Sejak dulu..aku memang
tak suka dgn pakaian yang ketat.
Aku lebih suka memakai
pakaian cowok (baju ke’gedean’ dan celana lebar).
Semoga itu memang
rencanaNya yang disiapkan untukku agar tak mencicipi pakaian yang ketat. Alhamdulillah..
Nah, ketika SMA aku mulai
mengenal dunia ROHIS. Meskipun aku tak begitu aktif.
Namun jilbabku masih bisa
dibilang tembus pandang dan pendek. Jilbab mini gitu deh. Aku ingat sekali, pak
Zekky sering sekali bilang.. berhijab itu tak boleh menampakkan aurat, bahkan
yang sudah berjilbab pun bisa dibilang masih terlihat auratnya. Bahan jilbab yang
tipis dan tidak menutup dada.
Josh! Saat itulah hati ku
mulai tertampar.. berfikirlah..dan mulai mencari referensi tentang hijab. Aku ingat
ketika itu aku membaca buku “Ukhti..apa yang menghalangimu berhijab?” judul
yang memikat hatiku. Setelah ku baca, ternyata
aku belum bisa dikategorikan mengenakan jilbab syar’i.
Di suatu malam, ketika
usai membaca buku..diriku tidur ayam (tak terlalu lelap).
Tiba – tiba.. dalam tidur
ku ada kejadian yang aneh.
Kenapa ada angin yang
masuk? Hingga jendela ku tertutup-terbuka secara bergantian.
Kemudian buku yang tadi
ku baca terbuka dengan sendirinya.
Seperti film gitu deh. Istighfar.
Dan..di sampingku seakan –
akan ada sosok laki-laki yang tinggi besar berjubah hitam memegang palu/alat pemukul sambil
bilang seperti ini : “waktumu telah habis!”
sontak aku menangis dan
menawar untuk tak mencabut nyawaku saat itu.
“aku belum berjilbab!”
jawabku pada sosok itu.
Aku menangis tersedu –
sedu bak anak kecil yang ditinggal ibunya.
Aku takut luar biasa..
aku merasa seakan – akan nafas sudah di tenggorokan ku.
Istighfar kembali…
Kemudian aku berdoa “ ya
Allah..aku masih bandel. Belum tutup aurat..belum minta maaf juga ke
mama..jangan mati sekarang ya Allah..”
Ketika itu aku tak tau
harus bagaimana lagi. Hanya satu, yang ku minta.
Hidupkan aku, agar aku bisa bertaubat kepada Allah.
Hidupkan aku, agar aku bisa bertaubat kepada Allah.
Usai kejadian itu, aku
segera bangun dan lari ke kamar mama.
Aku menangis ketakutan
dan berkata :”mah ela takut mati”
Malam itu..aku tak ingin
memejamkan mata. Aku tidur di kamar mama untuk menenangkan hati. Tapi..sungguh,
aku tak menceritakan mimpi tadi. Karena itu bisa dikategorikan mimpi buruk. Aku
tak mau mama khawatir.
Esok harinya, aku mulai
berfikir..apa arti dari mimpi semalam?
Aku sungguh tak ingin
menunda janjiku semalam. Yah, aku harus berhijab!
Mulai hari itu..aku
meminta izin ke mama dan bapa untuk berjilbab secara serius.
Saat itu, aku masih kelas 2 SMA.
Saat itu, aku masih kelas 2 SMA.
Alhamdulillah kedua
orangtuapun mendukung.
Dan..alhamdulillah hingga
saat ini mahkotaku adalah hijabku.
Kenapa kamu berjilbab? Karena itu adalah bukti cintaku kepada Allah.
Simple saja, kalau
cinta..pasti akan berkorban bukan?
Ayo, semangat
berhijab!!!!

Komentar
Posting Komentar