Kisah kami & tukang ojek

Bismillah,

Ahad lalu, 01 Juli 2012.
Aku dan Mamie (Eka) berniat menghadiri walimah saudara kami.
Kita start berangkat dari Cibinong jam 12.45 naik angkot 08 ke sebuah tempat (alternatif sentul).
Jujur, akupun lupa nama gang'y apa ?
Terus...kita berjalan sambil bercerita mengenai halaqah, Smavo, dll...
Tak terasa, sudah 2,5 Km kita berjalan kaki di sana.

"mie...masih jauh ya tempatnya?" aku mulai merasakan ada yang tak beres dari perjalanan ini.
"iya kasel...mie tanya dulu ya.." mamie ikut ragu.

Ternyata...informasi dari seseorang, perjalanannya masih cukup jauh.
Dan.. kami pun tak langsung percaya.
Mamie mulai bertanya ke seorang ibu yang berada di sebuah warung.
"Ibu..kalau pabrik Olymp*c itu masih jauh ga bu?"
"Wah...itu mah jauh banget neng..lebih jauh dari neng masuk dari gang depan ke sini.."
Aku dan mamie bertatapan, hening...
"neng, jauh pisan ntu mah..mendingan naik ojek aja!" sambung suami dari ibu yang tadi.
"kalau jalan kaki, bisa kan pa?" aku pun mulai bersikeras, memantapkan hati. Menghindari ojek.
"Bisa neng, tapi lama..mungkin bisa setengah jam lagi neng baru nyampe..lebih malah" kata bapa itu.
"Terimakasih ya pa.." kami pamit sambil berjalan kembali.
"Neng, beneran mau jalan kaki? mendingan naik ojek aja. Neng tunggu di sini." pinta bapa itu.
"Umm..ga pa, kita sambil jalan aja nyari ojeknya" sahut aku dan mie.

Aku dan mie memang sama - sama menghindari naik ojek. Bukan karena tidak mau membayar, tapi terlebih karena kami merasa risih. Saat di perjalanan, kami pun sudah merasa lelah, karena panas yang menyengat. Diperkirakan lebih dari 35 derajat. Subhanallah.

"Mie...kita sewa 2 ojek yuk...tapi kita ga boncengan sama abangnya.." mulai ide aneh itu muncul.
"Kasel.... kalau matic mamie bisa bawa. Ya sudah, kita tunggu dapat 2 ojek ya.." ajak mamie
"Ok..sambil jalan yuk mie..tapi tetap bersiaga" sahut aku.

Alhamdulillah, ada tanda - tanda tukang ojek. Semoga lebih dari 1..kita berharap ada 2 tukang ojek yang lewat. Dan ternyata...
"Abang...ojek ya? kita butuh 2 bang!" teriak kami semangat meminta 1 tukang ojek lagi.
"Iya neng, ni ada 1 lagi neng.." sahut abang ojek
"Abang, kita mau ojek tapi kita tetap berdua bang.. jadi, abangnya berdua boncengan ya. Nanti kita pinjam motor abang yang ini." pinta aku, mulai meyakinkan abangnya.
Abang ojek pun ekspresinya mulai bingung..tapi aku mengulangi pertanyaan lagi. Kali ini dengan isyarat bahasa tubuh. 
"Abang, nanti boncengan sama abang yang ini, sedangkan kami naik motor yang ini bang. Gak apa - apa kan?" Tanya aku dan mamie.
"Iya neng..gak apa - apa. Neng pake motor yang ini aja.." Kata abang ojek sambil menyodorkan motornya.
"Kasel...emang kasel bisa bawa motor gigi?" Mamie mulai gusar.
"Bisa mie, insyaAllah..ayo, naik!" Aku mulai memberanikan diri meyakinkan mamie untuk naik.

Lucu, aku melihat expresi bingungnya abang ojek itu. Seakan - akan mereka ingin bilang kepada kami... "Kenapa ga dibonceng abang aja neng?". Namun aku yakin, sebenarnya mereka sudah tau mengapa kami bersikukuh tetap ingin bersama.. hehe

"Subhanallah ya mie, jauhh juga ni kalau jalan kaki..ini aja, ga nyampe2"..kataku sambil mengukur jalan.
"Iya kasel...jauh banget ini mah..panas juga..nanti kita pulangnya gimana ya?" Tanya mamie.
"Gimana ya mie, semoga ada jalan lain mie..." Sahut aku, hopeful.

Di perjalanan, kami benar - benar bingung. Jujur, kami baru kali ini datang ke daerah ini. Sebenarnya, abang ojek itu pun tak begitu tau tujuan alamat kami. Lantas, kami menyasar sedikit, dan balik arah lagi. Semakin lama, jalan terasa semakin sempit. Akupun mulai oleng, ketika berpapasan dengan sepeda motor secara mendadak saat belokan.

"Astaghfirullah...mamiee...ada motor, hampir aja kena ya mie." Aku mulai panik.
"Kasel..hati-hati..ayo, kasel pasti bisa!" Mamie menyemangati.
"Mamie..maaf ya, aku bawanya ga stabil. Maklum mie..udah lama banget ga bawa motor." Aku pun tak enak membuat mamie cemas.
"Gak apa - apa kasela... ini juga kalau mie yang bawa sudah jatuh dari tadi" Kata mamie merendah.
"Ah, mamie bisa aja dah.." sahut aku.
"Mamie bisanya bawa matic kasela.." kata mamie meyakinkan.

Alhamdulillah, akhirnya ada tanda - tanda walimahan. Segar hatiku, karena sudah hampir sampai. Sempat ada sedikit tawar menawar di antara kami dan abang ojek tersebut. Akhirnya, kami ambil jalan tengah.
"Segini, neng? Biasanya kalau dari depan aja 10.000" Abangnya menimpali
"Oke bang, berhubung kita naik ojeknya pas di tengah perjalanan dan bawa motor sendiri.. Gimana kalau 7000 bang!" (Sebenarnya tadi saran dari ibu - ibu warung tersebut, kami cukup membayar 5000 saja)
"Iya deh neng.." alhamdulillah abangnya setuju.

Alhasil, kami mulai menyusuri jalan menuju pelaminan. Tubuhku masih gemetar, karena perjalanan yang lumayan panjaang. Usai makan dan pengantin wanita tiba di pelaminan, kamipun undur pamit. 
"Kak, ada jalan lain ga ka menuju jalan raya?" Tanya mamie kepada kak uyung
"Ada, eka..lewat jalan turun aja..nanti lewat kali, menanjak ... trus nanti ada gang Bintang Mas" Kata kakak kelas kami yang saat itu menjadi pengantin.
"Oke ka.. ga jauh kan ka?" Kata mamie meyakinkan pertanyaannya.
"Dekat, insya Allah. Lah, emang tadi naik apa?" Kata kak uyung
"Jalan kaki + naik ojek ka.. tapi kita bawa sendiri motornya" kata kami menimpali.

Usai pamit, kami kembali menyusuri jalan. Alhamdulillah kali ini dipermudah oleh Allah. Waktu sudah menunjukkan pukul 14. 05. Aku masih di angkot 08 menuju Terminal Cibinong. Menghela nafas, akupun merasa tidak enak dengan saudari - saudari fokus yang mengajak aku ke walimahan ka ipeh bersama mereka. Alhamdulillah mereka mafhum. 

Next, aku meluncur dengan angkot 41 menuju PAL (Depok). Subhanallah, macet kali siang itu. Hampir 1 jam 30 menit perjalanan. Bahkan, aku mengira bahwa aku sudah terlewat sedari tadi. Mulai gusar, menatap kanan - kiri jalan. Aku merasakan perjalanan yang tidak biasanya. Sungguh, jauh sekali. Jangan - jangan aku telah terlewat! Istighfar...

Dalam perasaan yang kalut itu, aku mencoba meyakinkan diri. Aku tak tersesat, ini belum sampai depok. Tapi kenapa di sepanjang jalan menunjukkan kalau area ini adalah Cisalak? Apakah aku sudah benar - benar terlewat sangat jauh? 

Alhamdulillah, atas izin Allah.. aku tak tersesat dan mulai menyadari bahwa macet yang membuat perjalanan ini terasa sangat lama.

Tiba di PAL, aku merasa lebih lega. Tinggal satu angkot lagi, pekik hatiku. Aku langsung naik angkot D11. Meluncur ke Kober. Alhamdulillah, selamat sampai kober.

Bertemu dengan nyuy...dan langsung naik angkot 112 menuju mall Cijantung. Jujur, kami berdua juga tidak tahu dimana itu mall Cijantung? Bertanya ke penumpang pun tak ada yang tahu. Mungkin mereka juga pendatang di sini. Akhirnya ada seorang ibu yang memberitahu kami.

Alhamdulillah, tiba di area Mall Cijantung. Kali ini mulai diam, tak berkutik. Kemana ya langkah selanjutnya? Yupz, aku buka draft sms di hpku. Ternyata setelah itu, naik ojek ke Perumahan Cijantung 2 jalan Cemara.
"Nyuy....aku ga mau naik ojek ya.." Pinta aku menghindari ojek.
"Iya shei..aku juga ga mau, mending kita cari jalan yuk. Nyebrang kali ya" Nyuy mantap.

Usai menyebrang, kamipun mulai clingak - clinguk.. Alhasil, kami bertanya dengan salah seorang bapak paruh baya. Dan, kami langsung menuju perumahan tersebut.
"Nyuy..itu jalan flamboyan...trus, cemara dimana ya?" Tanya aku
"Dimana ya shei..kita tanya2 dulu yuk."

Usai bertanya ke bengkel kecil, kamipun masuk ke jalan Flamboyan. Tak sejauh perjalananku yang pertama. Kali ini, kami dibingungkan dengan perlima-an (bukan perempatan). Usai bertanya, kami pun meluncur dan menemukan pertigaan. Saat hampir tersesat, aku melihat ada kakak kelas yang sedang mengendarai motor lewat dan menuju ke arah kanan ku.

"Nyuy... itu ada bang *dj*... kaya'nya kita kesitu deh. Kanan!" Teriak aku, gembira.
"Aku ga lihat shei... ayo, kita ke kanan aja" Sahut nyuy ikut senang.

Saat belok kanan, kamipun semakin yakin itu rumah mempelai. Alhamdulillah sampai juga. Lapar sangat perut kamipun meronta. Setelah bersalaman dengan kakak - kakak 07, kami pun meluncur ke stand bakso dan kue. Segarnya hari ini. Terimakasih Ya Allah atas petunjukMu..

Pulang dengan angkot 112, kami turun di depan Plaza Depok. Transit di sini untuk menunaikan   Maghrib. Dan kamipun berpisah di sini. Aku menuju angkot 05, kali ini perjalanan kembali macet. Aku tiba di rumah jam 20.00 WIB. 

Sungguh, hari itu aku merasakan perjalanan yang tak biasa. Aku semakin merasakan keberadaanNya. Allahu Akbar, Engkau selalu menunjukkan jalanku. Terimakasih ya Allah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Buka Jilbabmu Sampai Engkau Baca Basmalah

dari Allah, untuk perbaikanku

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithon yang terkutuk